Monday, May 6, 2019

Ndak Terlalu Kuning

Akhir-akhir semester 4 saya kuliah di Fakultas Hukum Untad ada mobil mini van yang tiap hari parkir dekat kelas BT2 untuk jualan nasi kuning.

Sembari menunggu dosen, saya, Ocep, Ragil, Firman dan yang lainnya nongkrong di depan kelas.

"Gil..." Kata Ocep, "...makan nasi kuning di situ, kita?"

"Ndak mau ah...." Jawab Ragil.

"Kenapa?"

"Ck." Ragil membunyikan mulutnya, "Nda terlalu kuning."

***

Ngomong-ngomong nasi kuning, Omku, Om Hery, salah satu orang yang sangat paham dunia per-nasi-kuning-an Indonesia merdeka. Dia hafal betul tempat-tempat nasi kuning yang delisius di Palu. Dari Nasi Kuning Tenda Biru di Nunu, sampai Nasi Kuning Mama Jena yang harganya ngalahin seporsi Nasi + Ayam di KFC.

"Di Tanjung Satu cantik penjualnya." Ini yang paling saya ingat dari semua penjelasan dia tentang nasi kuning selama 40 menit.

Kalau ditanya, kenapa saya dan Om Hery suka nasi kuning? Salah satu jawabannya, karena murah.

Belum lama ini saya dan teman-teman kampus sering mampir di Nasi Kuning Mama Ojo di Tondo.
Pake ati-ampela.
Selain dekat dari kampus, Mama Ojo menawarkan berbagai varian nasi kuning dengan harga yang sesuai dompet mahasiswa. Bermodalkan uang 10 ribu kita sudah bisa dapet ayam, ikan, telur, atau kombinasi dari ketiganya.


Tempat makan Mama Ojo berada di Jalan Roviga atas, sebelah kiri di antara deratan kost-kostan. Cukup mudah mencarinya, karena rame dengan mahasiswa yang lagi ngisi perut di sela-sela pergantian mata kuliah.

Saya tidak tahu nasi kuning diukur enak-tidaknya dari apa, yang saya tahu, kalau sambelnya enak, pasti naskunnya nikmat.
Sedikit lagi jadi Vampire.
Karena suka pedas, bagi saya sambel nasi kuning terwenak masih dijuarai Nasi Kuning Vampire yang buka di persimpangan antara Gatot Subroto sama Moh. Hatta.

Enggak, nasi kuning ini tidak ada hubunganya dengan Robert Pattinson, Twilight, apalagi Briptu Norman Kamaru. Cuma katanya, kalau makan nasi kuning ini bibir kita bisa berubah merah seperti vampire.

Nasi Kuning Vampire sudah jadi teman setia anak-anak gaul Palu semenjak tempatnya masih kecil dan sempit sampai sekarang agak besaran. Terutama yang punya penyakit laper tengah malam. Mereka buka dari jam 3 sore hingga jam 3 pagi. Berasa kayak vampire beneran, yak?

Tidak hanya itu, Fernando. Waroeng Vampir juga menyediakan berbagai macam makanan dan minuman, seperti waffle, es kepal milo, indomie goreng dengan berbagai macam toping dan banyak lagi. Jadi kalau kamu lagi bosen makan nasi kuning, bisa coba usaha ternak lele menu-menu lain.

Pokoknya buat temen-temen yang suka sensasi terbakar api asmara, nasi kuning vampire rekomendet banget.

***

Cerita-cerita nasi kuning begini buat ingatanku kembali ke masa SMA. 

Lihat pengaruh kuatnya rasa nasi kuning untuk kehidupan mu, bro.... Bagaikan mesin waktu yang menembus dimensi terdalam dari ruang ingatan.

Pagi itu selesai mata pelajaran pertama, saya, Ryan, Rendi, Rey, Atam dan beberapa orang teman pergi ke kantin sekolah. Kami sudah semester akhir, tinggal beberapa bulan ke depan akan menghadapi ujian Nasional.

"Nasi kuning ayam."

"Saya ikan telur, Wati."

Plak!!!

Tiba-tiba seseorang menerobos masuk antrian lalu memukul meja, mengagetkan kami yang lagi khusyuk memilih lauk yang akan disandingkan bersama nasi kuning.

Ternyata orang ini salah satu dari rombongan kami tadi, dialah Atam Sang Pangeran.

Kamipun terdiam, saling menatap menunggu siapa di antara semuanya yang lebih dulu bereaksi.

Layaknya serigala di antara domba-domba, Sang Pangeran lah yang pertama mengangkat suara....

"WATI, NASI KUNING!!!" Bentak Atam, "Tidak pakai bengbeng."